Selasa, 06 Maret 2012

Ibuku Inspirasiku

Ibuku Adalah Batas Logikaku
Ibuku Adalah Buku Kehidupan
Ibuku Adalah Perempuan Tertangguh
Ibuku Adalah Cawan Cinta Yang Tak Habis Kureguk
Ibuku Adalah Setiap Tarikan Nafasku
Ibuku Adalah Pembelajar Kehidupan Ulung
Ibuku Adalah... Dia Tak Terdefinisikan !
Kumpulan kata-kata dari grup FB Cinta Yang Halal ini membuatku teringat pada sesosok wanita yang begitu aku hormati yakni ibuku. Ibuku hanyalah seorang wanita desa yang sedari kecil terbiasa hidup dengan kesederhanaannya, dengan ketangguhannya dalam mengarungi samudera kehidupan yang kadang di mata orang lain tidak adil. Sesosok wanita yang hidup dengan jubah keikhlasannya dalam menghadapi coba dan goda. Pokoknya wanita yang istimewa menurutku.
Ibuku memang bukanlah sesosok wanita yang dinaungi keberuntungan seperti halnya Megawati yang terlahir dari trah Soekarno ataupun seperti Cici Tegal yang dengan logat medoknya, bisa menjadi modal mencari nafkah. Ibuku hanyalah wanita biasa yang sedari masih sekolah SD telah terbiasa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan cara bekerja keras memintal tetes-tetes keringatnya menjadi sesuatu yang bisa meringankan beban hidup orang tua dan saudara tuanya. Ya ibuku terbiasa berkorban untuk saudara-saudaranya, sampai terlupa bagaimana ibu harus menikmati kebahagian yang berasal dari jerih payahnya.
Ibuku yang biasanya aku panggil dengan panggilan sayang yang sederhana. Ya aku tidak malu untuk memanggilnya dengan sebutan emak, Sebagaimana dia tidak malu untuk bekerja apa saja yang penting halal demi menyekolahkan kami anak-anaknya. Ibuku sumber ilmuku, sumber inspirasiku dan juga tantangan bagiku untuk bisa setidaknya meniru ketegarannya, keikhlasannya, ketulusannya dan semua hal baik yang ada padanya.
Ibuku bukanlah tokoh besar yang akan tercatat dalam cerita hidup orang banyak. Tapi tetap dia tokoh besar yang akan mempunyai tempat tersendiri dalam hatiku. Petuah-petuahnya meski tak semuanya bisa aku jabarkan dalam perilaku yang sesuai dengan harapannya, tapi akan selalu terkenang dalam relung hatiku. Larangan-larangannya meski tak setegas undang-undang di negeri ini, akan berusaha untuk selalu aku patuhi meski ibu tak akan selalu mengawasiku dengan tatap matanya yang teduh nan tajam.
Ibuku hanyalah wanita biasa. Tapi darinya aku banyak belajar. Sikap sederhanya mampu menginspirasiku. Mampu menyemangatiku saat aku terpuruk. Bahkan sikap sederhananya mampu mendinginkanku saat aku terbakar api amarah. Ya ibuku sesosok teladan yang begitu pas untuk aku pelajari.
Ya ibuku memang sosok spesial bagiku. Sampai beberapa tahun yang lalu aku hanya menganggapnya wanita biasa, sampai suatu hari aku tahu betapa besar pengorbananya untuk saudara-saudaranya. Sebelumnya aku tak pernah tahu seberapa besar nilai pengorbanannya terhadap para saudaranya. Yang aku tahu hanyalah kebesarannya dalam berkorban untuk kami 4 orang anaknya. 
Aku baru tahu cerita pengorbanan ibuku untuk para saudara tuanya dari cerita kakak perempuan tertua ibuku yang juga sangat aku hormati. Waktu itu bude bercerita bagaimana ibu mengikhlaskan dirinya untuk tidak melanjutkan sekolah dan memilih untuk bekerja demi cita-cita kakak lelakinya yang akhirnya mampu diantarkannya menjadi PNS. Bagaimana ibu sampai juga mengikhlaskan perhiasan emas yang susah payah dia peroleh dari menabung sedikit demi sedikit untuk membantu saudara tuanya tersebut. Padahal waktu itu hanya perhiasan emas itulah yang ibu punya.
Ibuku hanyalah wanita sederhana yang tidak mau berpikir rumit. Tapi dari pola pikirnya itu, beliau mampu mendidik anak-anaknya menjadi orang yang lebih baik. Saat anak-anaknya berbuat salah, ibuku tak suka sibuk mencari siapa yang salah siapa yang benar. Ibu hanya mau mempelajari kenapa kasus itu ada lalu berpikir dan bertindak bagaimana kedepannya agar tidak terulang kembali. Ahhh ibuku memang wanita istimewa yang tertutup baju kesederhanaan.
Ibuku, sesosok wanita yang sejak sekitar 10 tahun yang lalu dihinggapi hypertensi tapi masih mampu mengendalikan emosi. Sungguh aku tadinya tak percaya jika ibu terkena Hypertensi seandainya aku tak mengantarkannya untuk periksa ke bidan di desaku. Tapi ibuku tak pernah mengeluhkan penyakit itu pada kami anak-anaknya. Dia selalu menyiapkan ramuan rebusan air daun " sambung nyowo " sendiri jika merasa tensi darahnya mulai naik. Aku hanya beberapa kali seja membuatkannya, saat aku tahu hypertensinya kambuh.
Meski hypertensinya kambuh, ibu tetap bisa mengendalikan emosinya. Saat ada berita buruk yang beredar tentang kebiasaanku nongkrong sewaktu masih di rumah, dengan kepala dingin ibu menerima berita buruk tersebut tanpa emosi sama sekali. padahal waktu itu tensi darah beliau menyentuh angka 200. Dengan sabar ibu menyelidiki kebenaran itu sendiri. Saat kebenaran terungkap ibu hanya tersenyum tanpa pernah punya keinginan untuk marah terhadap si penyebar berita buruk tersebut. Bahkan saat bercerita masalah itu kepadaku, ibu mewanti-wanti aku untuk tidak mempunyai dendam dan amarah terhadap pelaku. Ahh ibuku sungguh besar hatimu ibu.
Ibu satu yang selalu terngiang di telingaku meski aku telah mengembara dari satu kota ke kota lainnya. Tantanganmu kepadaku anakmu ini untuk bisa meniru sedikit kebaikanmu saja, hal itu selalu terngiang meski telah 7 tahun aku tinggalkanmu di rumah ibu. Tantanganmu itulah yang membuatku bersemangat untuk mengurangi sikap kakuku. Sikap yang sedari kecil sangat lengket padaku. Alhamdulillah kini sikap kaku telah berkurang ibu. Semua berkat do'amu yang diijabah ALLAH ibu.
Ibu maafkan aku anakmu yang belum bisa membahagiakanmu ibu. Maafkan aku anakmu yang terlalu sering menyakitimu. Semoga rahman dan rahiim ALLAh selalu menaungi perjalananmu ibu. Do'aku untukmu ibu sumber inspirasiku. Sumber ilmuku, Sumber semangatku.

Cara Mendidik Anak ala Rasulullah SAW

Pakar-pakar pendidikan di Indonesia menilai bahwa salah satu sebab utama kegagalan pendidikan kita karena para pendidiknya yang gagal. Padahal, salah satu syarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan adalah dipilihnya pendidik yang baik. Nah, Rasulullah adalah suri tauladan yang terbaik, karenanya mari kita berkaca dari sepercik cara mendidik anak ala beliau.
Kita dalam hal ini berada dalam lingkaran setan, anak didik tidak berkualitas ternyata karena gurunya yang kurang bermutu, akhirnya pendidikannya gagal. Memang salah satu syarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan adalah dipilihnya pendidik yang baik, yang sebelumnya perlu dididik pula. Sebenarnya kalau melihat ke sejarah Nabi, problema ini baru terselesaikan karena Allah Swt. turun tangan.
Anak didik dibentuk oleh empat faktor. Pertama, ayah yang berperan utama dalam membentuk kepribadian anak. Bahkan, dalam Al-Quran hampir semua ayat yang berbicara tentang pendidikan anak, yang berperan adalah ayah. Kedua, yang membentuk kepribadiannya juga adalah ibu; ketiga, apa yang dibacanya (ilmu); dan keempat, lingkungan. Kalau ini baik, anak bisa baik, juga sebaliknya. Begitu pula baik-buruk kadar pendidikan kita.
Empat faktor ini belum tentu semuanya terwujud. Ketika Allah Swt. menetapkan bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya, maka yang membentuk kepribadiannya adalah Allah Swt. Sebab, bila diserahkan kepada masyarakat atau keluarga, maka ia tidak akan sempurna, bisa jadi keliru. Dalam hal ini, Tuhan yang melakukan, sedangkan masyarakat atau keluarga diberi peranan yang sangat sedikit. Itu sebabnya bila telah selesai peranan ayah, maka dia diambil-Nya meninggal dunia. Ini karena Tuhan tidak mau beliau dididik bapaknya. Begitu lahir dibawa ke desa dan ketika usia remaja baru ketemu ibunya. Namun, ibunya pun kemudian diambil-Nya. Selain itu, beliau lahir di lingkungan dengan gaya hidup yang terbelakang, bahkan hampir tidak tersentuh oleh peradaban. Padahal, waktu itu Mesir, Persia, dan India semunya sudah maju. Dalam hal ini, Allah Swt. ingin mendidik langsung beliau untuk menjadi pendidik, yakni figur yang diteladani bagaimana seharusnya mendidik. Itu sebabnya beliau bersabda, Addabanî Rabbî fa Ahsana Ta’dîbi (”Yang mendidik saya itu adalah Tuhan”). Juga, Bu’itstu Mu’alliman (”Saya diutus-Nya menjadi pengajar, pendidik”).
Kita ambil beberapa inti dari kisah hidup Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Bila ingin anak yang membawa namamu itu tumbuh berkembang dengan baik, maka pilih-pilihlah tempat kamu meletakkan spermamu, karena gen itu menurun”. Jadi, sebelum anak lahir kita harus memilih hal yang baik, karena gen ini mempengaruhi keturunan. Pakar pendidikan mengakui bahwa ada faktor genetik dan pendidikan. Walaupun mereka berbeda pendapat yang mana lebih dominan, namun yang jelas keduanya punya pengaruh. Penulis pribadi cenderung berpendapat yang lebih dominan itu sebenarnya pada pendidikan, bukan sperma (gen). Sebagai analogi, bila kita lagi sumpek, masakan kita bisa tidak enak. Di sini ada pengaruh dari emosi dan sikap pada saat membuat suatu masakan. Jadi, bila ingin anak yang baik, maka harus ditanamkan perasaan yang enak, harmonis, dan penuh keagamaan sewaktu memproduksinya. Ini berpengaruh kepada jabang bayi. Ketika membuatnya dalam situasi ketakutan, maka anaknya pun akan menjadi penakut. Anak yang lahir di luar nikah itu berbeda dengan anak yang lahir dari hubungan yang sah. Karena semua orang sadar dalam hati bahwa perzinahan itu buruk, maka hal ini nantinya dapat berpengaruh terhadap anak. Karena itu pula, Nabi Saw. memerintahkan untuk memilih tempat-tempat yang baik saat menanamkan sperma kita dan dianjurkan sebelumnya untuk membaca doa dan tidak dihantui rasa takut atau cemas.
Di dalam Al-Quran diterangkan, Nisâukum hartsun lakum (Isteri kamu adalah ladang buatmu). Di sini Al-Quran mengumpamakan suami sebagai “petani” dan isteri sebagai “ladang”. Kalau petani menanam tomat, apakah apel yang tumbuh? Siapa yang salah, bila si suami menghendaki anak laki-laki namun yang lahir perempuan, petani atau ladangnya? Tentu petani. Setelah ditanam, semestinya benih itu dipelihara. Bila ada hama, maka perlu dipupuk, disirami, dan dipelihara dengan baik. Setelah ada hasilnya, maka perlu dicuci dulu bila ingin dimakan. Dan bila ingin dijual, juga dibersihkan dulu dan dikemas sedemikian rupa agar dapat bermanfaat. Ini sebenarnya pelajaran dalam Al-Quran. Agar buah yang lahir dari kehidupan suami-isteri ini bisa membawa manfaat sebanyak mungkin, maka harus memperhatikan sang isteri (ibu). Dari sini, sekian banyak anjuran untuk memberikan makanan yang bergizi bagi seorang ibu. Di masa Nabi Saw, buah yang paling banyak adalah kurma. Kurma itu memiliki vitamin dan karbohidrat yang tinggi. Nabi Saw. berkata, “Isteri-isteri kamu yang sedang hamil, maka berilah ia kurma agar supaya anaknya lahir sehat dan gagah”.
Hal di atas menunjukkan bahwa jauh sebelum anak dilahirkan, ternyata Islam telah memiliki landasan dan tempat berpijak. Lalu, apa yang perlu diperankan orang tua sekarang? Pertama, satu hal yang perlu digarisbawahi, begitu seorang anak lahir, Islam mengajarkan untuk diadzankan. Walaupun anak itu belum mendengar dan melihat, tapi ini memiliki makna psiko-keagamaan pada pertumbuhan jiwanya. Anak yang baru beberapa hari lahir, kalau ia ketawa, anda jangan menduga bahwa ia ketawa karena atau dengan ibunya, tapi karena ia merasakan kehadiran seseorang. Para pakar mengatakan demikian, karena ada orang yang lahir buta tetap tersenyum saat ibu mendekatinya. Jadi, seorang bayi memiliki rasa pada saat mendengar adzan, juga memiliki jiwa yang bisa berhubungan dengan sekelilingnya. Karena itu, adzan menjadi kalimat pertama yang diucapkan kepadanya. Dan, karena saat membacakan adzan seorang muadzin berhubungan dengan Tuhan, maka inilah yang memberikan dampak bagi perkembangan anak ke depan.
Kedua, sampai umur tujuh hari, kelahiran anak perlu disyukuri (’aqiqah). Kalau begitu, jangan sampai terbetik dalam pikiran ibu/bapak merasa tidak mau atau tidak membutuhkannya, karena saat itu sang anak sudah punya perasaan dan harus disambut dengan penuh syukur (’aqiqah). Misal, ada orang yang mengharapkan anak laki-laki, namun kemudian lahir anak perempuan, akhirnya ia kecewa serta tidak menerima dan menyukurinya. Semestinya perlu disyukuri, baik laki-laki maupun perempuan.
Ketiga, setelah ‘aqiqah, sang anak baru diberi nama yang terbaik karena dalam hadis disebutkan, “Di hari kemudian nanti orang-orang itu akan dipanggil dengan namanya”. Dalam hadis lain dijelaskan, “Nama itu adalah doa dan nama itu bisa membawa pada sifat anak kemudian”. Jadi, pilihlah nama yang baik untuknya.
Nama itu adalah sebuah doa yang menyandangnya. Ada ilustrasi, sebelum perang Badar (2 H.). berkecamuk, ada duel perorangan antara kaum muslim dan musyrik. Ali, Hamzah, dan ‘Ubaidah dari pihak kaum muslim, sedangkan dari pihak kaum musyrik yaitu ‘Utbah, Al-Walid dan Syaibah. Ali (yang tinggi) melawan Utbah (orang yang kecil). Hamzah (singa) berhadapan dengan Syaibah (orang tua). Al-Walid (anak kecil) berhadapan dengan ‘Ubaidah (hamba yang masih kecil). Bisa dibayangkan, bagaimana kalau orang yang tinggi besar berhadapan dengan anak kecil atau orang yang dijuluki “singa” dengan orang tua, siapa yang menang? Yang terjadi, Ali dan Hamzah berhasil membunuh lawannya, sedangkan Ubaidah dan al-Walid tidak ada yang terbunuh hanya keduanya terluka.
Nabi Saw. dipilihkan oleh Allah semua nama yang baik dan sesuai, karena ia adalah doa bagi yang menyandangnya. Misal, Nabi memiliki ibu bernama Aminah (yang memberi rasa aman) dan ayahnya Abdullah (hamba Allah). Yang membantu melahirkan Nabi namanya As-Syaffa (yang memberikan kesehatan dan kesempurnaan). Yang menyusuinya adalah Halimah (perempuan yang lapang dada), jadi Nabi dibesarkan oleh kelapangan dada. Anjuran untuk memilih nama yang mengandung doa juga dimaksudkan agar jangan sampai menimbulkan rasa rendah diri pada sang anak.
Keempat, mendidik anak bagi Nabi Saw. adalah menumbuhkembangkan kepribadian sang anak dengan memberikan kehormatan kepadanya, sehingga beliau sangat menghormati anak-cucunya. Bila memang sejak kecil ia sudah memiliki perasaan, maka jangan sampai ada perlakuan yang menjadikannya merasa terhina. Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya untuk berbakti kepada orang tuanya. Nabi Saw. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi berkata: “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya”.
Ada sebuah riwayat, seorang anak lelaki digendong oleh Nabi dan anak itu pipis, lantas ibunya langsung merebut anaknya itu dengan kasar. Nabi kemudian bersabda, “Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi berkata, “Jangan, biarkan ia kencing”. Dari hal ini, muncul ketentuan, bila anak laki-laki kencing cukup dibasuh, sedangkan bila anak perempuan dicuci dengan sabun. Riwayat tadi memberi pelajaran bahwa sikap kasar terhadap seorang anak dapat mempengaruhi jiwanya sampai kelak ia dewasa.
Namun sisi lain, ada satu hal di mana Nabi sangat hati-hati dalam persoalan anak. Ketika Nabi lagi di masjid, ada orang yang kirim kurma, kemudian cucunya datang dan mengambil sebuah kurma lalu dimakannya. Nabi bertanya kepada ibunya, “Ini anak tadi mengambil kurma dari mana?” Sampai akhirnya, dipanggilnya Saidina Hasan dan dicongkel kurma dari mulutnya. Ini maknanya apa? Nabi tidak mau anak cucunya itu memakan sesuatu yang haram, walaupun ia masih kecil dan tidak ada dosa baginya, karena itu akan memberikan pengaruh kepadanya kelak ia besar.
Ada cerita dari pengalaman seorang ibu yang pendidikannya hanya sampai SD dan memiliki 13 anak, tetapi semuanya berhasil. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepada si ibu itu, “Doa apa yang dipakai ibu sehingga semuanya berhasil?” Jawabnya, “Saya dan suami saya tidak banyak berdoa. Tapi, bila anak saya bersalah atau saya tidak senang perbuatannya, saya selalu berkata, “Mudah-mudahan Tuhan memberimu petunjuk”. Jadi, anak ini tidak dimaki, dikutuk, atau dimarahi. Dan, kami kedua orang tuanya tidak pernah memberi makan mereka dengan makanan yang haram

Dunia wanita

IBU SEBAGAI PENDIDIK PERTAMA DAN UTAMA





Sering kita melalaikan peran seorang Ibu sebagai pendidik utama dan utama dalam pendidikan. Bahkan sering kita jumpai, seorang anak yang telah hilang rasa hormatnya kepada seorang Ibu. Yang dengan masalah kecil bisa mengakibatkan Ibunya meninggal dunia. Na’udzubillah,,,,,,,,

Tidak dapat dipungkiri bahwa Ibu sebagai madrasah yang pertama dan utama dalam mendidik anak-anaknya. Seorang Kartini pun mengakui akan hal tersebut. Dalam sebuah riwayat pernah dituliskan, bahwa Kartini pernah mengutarakan lewat sebuah surat yang ditujukan kepada Prof. Anton dan istrinya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Derajat seorang ibu sebanyak tiga kali dibanding ayah. Seperti itulah di dalam hadist diriwayatkan : Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk saya pergauli dengan baik” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Lagi-lagi beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Baru beliau menjawab, “Bapakmu” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud). Sungguh mulia seorang ibu, sampai Rasulullah memerintahkan kita menghormati ibu sebelum ayah, kenapa ? Karena begitu banyak hal yang sudah dilakukan oleh seorang ibu, seperti mengandung, menyusui dan mengasuh. Bukan berarti peranan seorang ayah diabaikan, ayah pun memiliki peranan yang tidak kalah penting. Tetapi peranan ibu sungguh sangat dominan.
Selain ibu sebagai madrasah dalam sebuah rumah tangga, ibu juga berperan sebagai “madrasatul ummah” begitu lah Nabi menggambarkan secara konkrit sosok penting peran seorang Ibu bagi bangsa. Untuk menjadi sekolah bagi ummat, sudah pasti tentunya diperlukan khasanah keilmuan yang tinggi dan kekukuhan pondasi keimanan demi terwujudnya kwalitas kesempurnaan bagi murid-murid yang menimba ilmu di dalamnya.
Sangat wajar dan logis jika tanggung jawab pendidikan itu didasarkan dan diletakkan kepada kedua orang tua (Ibu). Karena sudah diketahui bahwa peranan dari keluargalah yang berperan besar dalam menciptakan kepribadian bagi anak-anak.
Sebagai seorang wanita muslimah, tentunya dengan adanya berbagai tuntutan-tuntutan tersebut menjadi suatu keharusan. Karena di tangan merekalah (perempuan) bakal terwujud cikal bakal penerus perjuangan kemulyaan islam dan umat. Bagaimana bisa di harapkan penerus perjuangan islam yang handal jika pada sosok pendidik tidak bisa di jadikan panutan dalam keimanan dan keislaman?.... Di tangan sosok wanitalah salah satunya akan tercipta kestabilan sebuah bangsa karena wanita berperan sebagai tiang sebuah negara, jadi kehancuran dan kebaikan sebuah Negara, salah satu faktor penentu utama berada pada wanita. Seperti pada sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa :

المرأة عمـاد الـبلاد ان صـلحت فصـلحت وان فسـدت ففـسدت
Sungguh keliru jika ada sebuah paradigma yang mengatakan : “tidaklah penting seorang wanita mencari ilmu setinggi mungkin, toh pada ahirnya dia kelak akan kembali kepada habitatnya, yakni mengurus urusan dapur semata. Justru di sini akan dikatakan sebaliknya, sudah menjadi suatu keharusan bagi wanita untuk mempunyai ilmu yang luas dan tinggi, Untuk apa? untuk siapa?,,,,, pertanyaan-pertanyaan itupun timbul. Jika kita lihat, di samping untuk bekal ibadah tentu juga untuk bekal kelak menjadi seorang ibu sebagai pendidik awal dan utama bagi generasi-generasi penerus bangsa, negara dan agama. Tuntutan tersebut semestinya sudah tertanam di dalam diri seorang wanita jika dia menyadari betapa penting peran utamanya dalam menentukan kebaikan dan kejayaan sebuah bangsa, agama dan negara. Kepiawaian keilmuan tersebut pada hakikatnya terutama untuk hal-hal yang telah di sebutkan di atas, karena peranan penting seorang ibu dalam pendidikan anak lebih banyak dari pada seorang bapak, di mulai dari kandungan, sesudah melahirkan, menjadi seorang bocah sampai dewasa, bahkan selama hidup tuntutan itu selalu ada, demi membimbing dan menjadi penasehat bagi anak-anaknya dalam mengarungi berbagai macam problematika hidup yang timbul. Seorang pendidik yang memahami agama secara baik pasti selalu menanamkan syariat-syariat islam dalam setiap gerak pendidikannya baik ketika dia menyusui, memandikan, memberikan makanan, minuman, berinteraksi dengan lingkungan dan tentunya berperan penting dalam mengenalkan Tuhan dan Rosul-Nya. Sehingga tidak bisa di pungkiri bahwa perempuan harus mempunyai bekal keilmuan yang tinggi, keimanan yang teguh, ketakwaan yang kuat dan budi pekerti yang mulia, demi terwujudnya cikal bakal penerus yang teruji dalam memperjuangkan kejayaan bangsa, negara dan agama. 
Kemudian jika kita tengok kepada hadis Nabi yang menjelaskan tentang memilih calon istri ketika akan menjalin rumah tangga, Rosulullah bersabda:

تنكـح المرأة لأربع لمالها ولحـسبها ولجمالها ولديـنها فاظفر بذات الدّيـن تربت يداك

Mengapa demikian ?!, kenapa faktor agama lebih di utamakan daripada faktor lainnya ?, mari kita cermati hadist tersebut secara teliti, adalah karena sesungguhnya sang suami ketika memutuskan menjadikan salah seorang wanita sebagai seorang istri, tidak saja untuk pendamping dirinya saja, melainkan yang lebih utama adalah karena di tangan sang wanita itulah anak-anaknya kelak akan di didik dan di cetak sesuai dengan impiannya selama ini, tentu menjadi anak-anak yang baik yang mumpuni dalam ilmu dan agama, yang berakhlakul karimah. Bukankah wanita yang pemahaman agamanya lebih banyak akan lebih optimal dalam ikhtiar mencetak kader-kader seperti yang di harapkan Itu ?.

Seorang wanita bisa menemukan hakikat tersebut tentu di perlukan pengenalan yang dalam pada masalah agama, karena dengan mengenal agama lebih dalam, seseorang akan mampu memahami untuk apa seorang wanita di tuntut mumpuni dalam keilmuan. Di samping keilmuan, ada faktor penting lain yang di butuhkan bagi seorang ibu sebagai pendidik ummat yaitu ketakwaan, keimanan yang teguh dan akhlak mulia, karena dia akan menjadi cermin pribadi bagi murid-muridnya, dengan berbekal Ilmu, iman, takwa dan akhlak mulia, dia bisa mempunyai kesabaran ektra dalam menjalankan tugas mulia demi mencetak kader-kader andalan, karena tidaklah mudah mewujudkan semuanya tanpa bekal semua itu.